PASURUAN – Kasus dugaan kekerasan di lingkungan pendidikan kembali memanas. Upaya klarifikasi yang dilakukan orang tua siswa kor...
PASURUAN – Kasus dugaan kekerasan di lingkungan pendidikan kembali memanas. Upaya klarifikasi yang dilakukan orang tua siswa korban pemukulan di SD Wirogunan, Kota Pasuruan, justru berujung pada kekecewaan mendalam akibat sikap arogan oknum guru dan respon kepala sekolah yang dinilai tidak bijaksana.
Kejadian ini bermula saat seorang siswa mengaku dipukul sebanyak tiga kali oleh oknum guru berinisial RF. Akibat tindakan tersebut, siswa yang bersangkutan mengalami trauma hebat hingga takut untuk menginjakkan kaki di sekolah.
Berniat mencari keadilan dan perlindungan bagi anaknya, orang tua siswa mendatangi sekolah untuk menemui pihak pimpinan. Namun, alih-alih mendapatkan permohonan maaf atau solusi perlindungan anak, suasana justru menegang saat orang tua korban menyatakan akan membawa masalah ini ke Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan.
Mendengar ancaman pengaduan tersebut, Kepala Sekolah SD Wirogunan bukannya berusaha meredam situasi, melainkan justru melontarkan kalimat yang dianggap menantang.
"Jangan tinggi-tinggi kalau bicara, Mas," ujar Kepala Sekolah tersebut, menirukan penuturan orang tua korban.
Sikap ini dirasakan orang tua siswa sebagai bentuk peremehan, seolah-olah pihak sekolah merasa kebal hukum atau meragukan keberanian wali murid untuk menempuh jalur resmi ke Dinas Pendidikan.
Ketegangan tidak berhenti di sana. Oknum guru berinisial RF yang dituding melakukan pemukulan dikabarkan tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. Di hadapan wali murid, RF disebut-sebut tetap bersikap angkuh atau "petantang-petenteng".
Sikap RF yang terkesan mengedepankan ego primordial. Sebagai seorang pendidik, tindakan kasar terhadap siswa dan keengganan untuk meminta maaf dianggap telah melanggar Kode Etik Guru dan Undang-Undang Perlindungan Anak.
"Sangat disayangkan, guru yang seharusnya memberi teladan malah berlagak seperti itu. Kepala sekolah pun bukannya menengahi malah seolah menantang," ungkap wali murid dengan nada kecewa.
Hingga saat ini, trauma anak masih menjadi beban berat bagi keluarga. Wali murid berharap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan segera turun tangan untuk mengevaluasi kinerja Kepala Sekolah dan oknum guru tersebut agar tindakan premanisme di lingkungan sekolah tidak lagi terulang. (Tim/Red)
